Senin, 30 Januari 2017

Mengenal sedikit tentang kehidupan



Mengenal sedikit tentang Kehidupan

Hallo teman, masih sehatkah kita saat ini?masih bisa bernafaskah kita saat ini?Segala puji bagi Tuhan semesta alam, saat ini kita masih diberi kesehatan, masih diberi nafas. Kenapa sehat kenapa nafas?karena manusia jika masih bisa bernafas berarti dia masih hidup dan jika sehat dia pasti bisa bernafas. Mungkin sebagian besar dari kita setiap hari sibuk dengan pekerjaan dan aktifitasnya masing-masing, terlelap dalam aktifitas duniawi yang seakan-akan tak pernah bisa berhenti. Bangun pagi, ambil mandi, makan, lalu berangkat kerja. Sehabis kerja pulang  sore hari capek lalu mandi lagi makan lalu istirahat lalu tahu-tahu sudah pagi lagi. Tanpa terasa hari berganti hari, bulan, dan tahun berlalu. Keinginan-keinginan datang silih berganti yang terpancar beraneka warna dan yang senantiasa melingkupi segala pemikiran kita, tindakan kita, ekspresi kita bagaimana agar bisa cepat terwujud. Apakah hidup itu memang sedemikian kiranya?mari kita simak paragraph-paragraf selamjutnya.

Pernahkah anda-anda mengalami jenuh?tiap hari beraktifitas begitu-begitu saja gak ada variasi?bertemu orang-orang yang itu-itu saja, rasanya seperti terbelenggu oleh dogma pemenuhan kebutuhan materi, prestise, kekayaan, jabatan, dan idealisme semu  yang dilambangkan dengan “uang”, tapi pada keadaan seperti itu, kita seperti tak berdaya untuk melawannya, tidak punya kekuatan untuk keluar dari kondisi itu. Dan akhirnya kita hanya bisa diam dan merenung.  Jika anda pernah atau sedang mengalami keadaan jenuh semacam itu, maka  selamat!...ahaaay…anda sedang mulai berkenalan dengan kehidupan. Lho mas, anda itu ngomong apa to?bukankah kondisi  jenuh semacam itu disebut stress?lha wong stress kok diselamati!edan kamu mas!!apalagi malah dibilang kenalan dengan kehidupan…saya sudah kenalan dari dulu, saya udah hidup dari dulu!! Huuuuu……
Sabar Mas/mbak, santai rileks dulu he he.. Kenapa saya berkata demikian, karena saya dulu pernah mengalami hal-hal seperti itu. Dari umur anak-anak sebenarnya kita sudah mengalami yang namanya tuntutan. Dimulai masuk sekolah dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, sampai universitas kita sudah biasa hidup dengan tuntutan bahkan dalam rumahpun ada tuntutan dari aturan yang harus kita taati dan lakukan. Disitu ada selingan jika kita tidak bisa memenuhi tuntutan itu, maka kita mendapatkan blab la bla dan lain sebagainya.Anehnya pembawaan kita dituntut itu masih saja kita bawa sampai kita lulus sekolah/kuliah lalu masuk lingkup kita bekerja. Bahkan sampai kita menjadi dewasa, menikah dan punya  anak. Saya lanjutkan pertanyaan saya, Apakah anda masih merasa dituntut sampai saat ini?beratkah?pusingkah kepala kita?dan apakah tebakan saya benar, anda akan kembali kepada kata jenuh tadi . Maaf , mari jujurlah pada diri kita sendiri bahwa kita memang capek dituntut terus. apakah kita hidup memang untuk dituntut?wah seperti di pengadilan saja ya main tuntut-tuntutan hue he he.

Dahulu ketika di pertengahan perkuliahan , saya juga merasakan jenuh bahkan seperti sudah tidak ada semangat mau belajar berkompetisi dengan lainnya, dan kehilangan arah. Saya memvonis saya sudah capek dan saya mau hidup bebas tanpa ikatan aturan. Akhirnya nilai saya buruk dan disitu mulai berniat bagaiman cara cepat segera diwisuda. Pikiran saya waktu itu, jika lulus kuliah saya mau hidup bebas. Saya merasa hidup dari anak-anak sampai dewasa hanya ajang memenuhi tuntutan dan mematuhi aturan yang terasa memaksa diri ini. Jiwa saya menolak dan berontak sehingga saya mengalami stress, prestasi menurun, dan krisis mental kepercayaan diri. Berjalannya waktu, saya cari terus apa maunya diri ini sampai akhirnya saya berpikir mungkin dengan menikah saya bisa lebih sabar dan keberuntungan saya datang sehingga tuntutan-tuntutan bisa saya penuhi. Beban tuntutan hidup bisa saya bagi dengan pasangan, dan saya berfikir akan lebih ringan. Saya juga berpikir jiwa saya akan lebih tenang dengan fokus kepada keluarga saya nantinya. Setelah itu saya berdoa dan singkat cerita saya lulus kuliah dan dikasih jodoh oleh Tuhan. Saya menikah dan mengarungi hidup baru. Apa yang terjadi selanjutnya?benar memang setelah saya menikah, saya memperoleh pengalaman baru, situasi baru, kondisi baru. Sebentar sekali saya merasa takjub, tapi waktu berjalan saya mulai dikerubuti tuntutan-tuntutan dari berbagai pihak. Dari lingkungan saya bekerja, dari keluarga besar, dan yang lebih utama adalah dari keluarga saya sendiri. Dalam waktu sekejab, kesulitan-kesulitan mulai datang. Tiba-tiba saya yang dulu jarang punya hutang jadi punya hutang banyak. Dulu saya jarang menunda pekerjaan, sekarang jadi banyak kerjaan menumpuk, urusan-urusan menjadi semakin kompleks, dan lainnya. Bayangan dulu setelah menikah aka begini, begitu tenyata terbalik-balik. saking besarnya tuntutan, dan saya tidak bisa mengimbangi, akhirnya saya pusing dan jatuh sakit. Di dalam keterpurukan itu saya mendapatkan banyak evaluasi diri dan saya berusaha bangkit.

Ternyata setelah saya berfikir dalam, apa yang membuat saya menderita adalah saya salah dalam berfikir. Saya dulu belum punya yang namanya “Kesadaran”.  Saya masih menjadikan sesuatu persoalan dan tuntutan itu datangnya dari luar, saya belum memiliki kesadaran dari dalam diri bahwa saya harus bisa berdamai dengan persoalan, dengan masalah, dengan tuntutan, dan dengan segala keadaan. Jiwa saya menuntut sempurna, tapi diri ini belum bisa menerima kenyataan sebagai sebuah bentuk penyadaran. Akhirnya raga ini layaknya kendaraan yang tiap hari dipakai tapi tidak pernah dirawat. Ya tanpa terasa semakin cepat rusak dan mogok. Ketidaktahuan saya mengenai kesadaran ini akhirnya membawa saya berfikir pendek,dan merasa tidak pernah merasa hidup tenang dan bebas. ternyata hidup sebelum menikah dan sesudah menikah sama saja. Tapi beberapa tahun setelah saya terpuruk, saya bersemangat untuk mencari “kesadaran” dengan harapan saya bisa hidup bebas dan tenang meskipun banyak masalah. Saya terus mencari konsep kesadaran diri, bagaimana cara saya bisa merangkul masalah menjadi sahabat yang menyenangkan bagi saya, bagaimana cara berteman dengan tuntutan-tuntutan hidup, dan yang terakhir bagaimana cara menikmati hidup.
Saya akhirnya mulai belajar, dan tetap akan belajar dalam sisa hidup saya bahwa:
a.Seburuk apapun kita dimasa lalu jangan khawatir teman, pengalaman pahit adalah obat kuat hidup kita yang paling manjur. Jadi maju terus, “Sing penting Joged”.
b.Apapun profesi anda, apapun pekerjaan anda, yang anda kerjakan saat ini adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan kepada kita. Masalahnya bukan pada persoalan/tuntutan yang kita hadapi, tapi bisakah kita memunculkan kesadaran dalam diri kita untuk menerima tantangan hidup dan mengatasinya.
c.Awali dengan “menerima kenyataan”, maka beban hidup akan lebih terasa ringan .
d.Berlatih untuk memaafkan diri sendiri, dan orang lain tiap saat. Kejarlah kesadaran lewat berlatih kesabaran.
e.Sekaya-kayanya anda, sepintar-pintarnya anda, selama belum bisa memperoleh “Kesadaran” diri, maka masih akan terus terjadi konflik fikiran dan hati (konflik batin) dan hidup masih akan terbelenggu tali egoisme diri. Hiduplah bebas dan tenang.
f. Mungkin kita merasa pandai sekarang, paling gaul sekarang, paling wah sekarang, paling top sekarang, paling sukses sekarang. Tapi berhati-hatilah kepada jalan yang terasa mudah tapi menggelincirkan jiwa raga kita kedalam lubang hitam duniawi. Sadar…sadar…sadar…
g.Jadikanlah kesadaran sebagai penyeimbang kehidupan.Yang kita butuhkan hanya ketika daya kesadaran kita mulai menipis, maka berhentilah sejenak untuk "me-recharge" baterai kesadaran dan lanjutkan kehidupan anda kembali. Jadilah sehat, jadilah bijak, dan jadilah bahagia. 

Maafkanlah kata-kata saya yang bodoh ini, maaf jika kurang berkenan. Salam sejahtera bagi semua makhluk.

“KENALILAH DIRIMU, MAKA KAU AKAN KENAL KEHIDUPAN”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar