Mengenal sedikit tentang Kehidupan
Hallo teman, masih sehatkah kita saat ini?masih bisa
bernafaskah kita saat ini?Segala puji bagi Tuhan semesta alam, saat ini kita
masih diberi kesehatan, masih diberi nafas. Kenapa sehat kenapa nafas?karena
manusia jika masih bisa bernafas berarti dia masih hidup dan jika sehat dia
pasti bisa bernafas. Mungkin sebagian besar dari kita setiap hari sibuk dengan
pekerjaan dan aktifitasnya masing-masing, terlelap dalam aktifitas duniawi yang
seakan-akan tak pernah bisa berhenti. Bangun pagi, ambil mandi, makan, lalu
berangkat kerja. Sehabis kerja pulang
sore hari capek lalu mandi lagi makan lalu istirahat lalu tahu-tahu
sudah pagi lagi. Tanpa terasa hari berganti hari, bulan, dan tahun berlalu.
Keinginan-keinginan datang silih berganti yang terpancar beraneka warna dan
yang senantiasa melingkupi segala pemikiran kita, tindakan kita, ekspresi kita
bagaimana agar bisa cepat terwujud. Apakah hidup itu memang sedemikian kiranya?mari
kita simak paragraph-paragraf selamjutnya.
Pernahkah anda-anda mengalami jenuh?tiap hari beraktifitas
begitu-begitu saja gak ada variasi?bertemu orang-orang yang itu-itu saja, rasanya
seperti terbelenggu oleh dogma pemenuhan kebutuhan materi, prestise, kekayaan,
jabatan, dan idealisme semu yang dilambangkan
dengan “uang”, tapi pada keadaan
seperti itu, kita seperti tak berdaya untuk melawannya, tidak punya kekuatan
untuk keluar dari kondisi itu. Dan akhirnya kita hanya bisa diam dan merenung. Jika anda pernah atau sedang mengalami keadaan
jenuh semacam itu, maka selamat!...ahaaay…anda sedang mulai
berkenalan dengan kehidupan. Lho mas, anda itu ngomong apa to?bukankah
kondisi jenuh semacam itu disebut
stress?lha wong stress kok diselamati!edan kamu mas!!apalagi malah dibilang kenalan
dengan kehidupan…saya sudah kenalan dari dulu, saya udah hidup dari dulu!!
Huuuuu……
Sabar Mas/mbak, santai rileks dulu he he.. Kenapa saya
berkata demikian, karena saya dulu pernah mengalami hal-hal seperti itu. Dari
umur anak-anak sebenarnya kita sudah mengalami yang namanya tuntutan. Dimulai
masuk sekolah dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, sampai
universitas kita sudah biasa hidup dengan tuntutan bahkan dalam rumahpun ada
tuntutan dari aturan yang harus kita taati dan lakukan. Disitu ada selingan
jika kita tidak bisa memenuhi tuntutan itu, maka kita mendapatkan blab la bla
dan lain sebagainya.Anehnya pembawaan kita dituntut itu masih saja kita bawa
sampai kita lulus sekolah/kuliah lalu masuk lingkup kita bekerja. Bahkan sampai
kita menjadi dewasa, menikah dan punya
anak. Saya lanjutkan pertanyaan saya, Apakah anda masih merasa dituntut
sampai saat ini?beratkah?pusingkah kepala kita?dan apakah tebakan saya benar,
anda akan kembali kepada kata jenuh tadi . Maaf , mari jujurlah pada diri kita sendiri
bahwa kita memang capek dituntut terus. apakah kita hidup memang untuk
dituntut?wah seperti di pengadilan saja ya main tuntut-tuntutan hue he he.
Dahulu ketika di pertengahan perkuliahan , saya juga
merasakan jenuh bahkan seperti sudah tidak ada semangat mau belajar
berkompetisi dengan lainnya, dan kehilangan arah. Saya memvonis saya sudah
capek dan saya mau hidup bebas tanpa ikatan aturan. Akhirnya nilai saya buruk
dan disitu mulai berniat bagaiman cara cepat segera diwisuda. Pikiran saya waktu itu, jika lulus kuliah saya mau hidup bebas. Saya merasa hidup dari
anak-anak sampai dewasa hanya ajang memenuhi tuntutan dan mematuhi aturan yang
terasa memaksa diri ini. Jiwa saya menolak dan berontak sehingga saya mengalami stress, prestasi
menurun, dan krisis mental kepercayaan diri. Berjalannya waktu, saya cari terus apa maunya diri
ini sampai akhirnya saya berpikir mungkin dengan menikah saya bisa lebih sabar dan
keberuntungan saya datang sehingga tuntutan-tuntutan bisa saya penuhi. Beban
tuntutan hidup bisa saya bagi dengan pasangan, dan saya berfikir akan lebih ringan.
Saya juga berpikir jiwa saya akan lebih tenang dengan fokus kepada keluarga
saya nantinya. Setelah itu saya berdoa dan singkat cerita saya lulus kuliah dan dikasih jodoh
oleh Tuhan. Saya menikah dan mengarungi hidup baru. Apa yang terjadi
selanjutnya?benar memang setelah saya menikah, saya memperoleh pengalaman baru,
situasi baru, kondisi baru. Sebentar sekali saya merasa takjub, tapi waktu
berjalan saya mulai dikerubuti tuntutan-tuntutan dari berbagai pihak. Dari
lingkungan saya bekerja, dari keluarga besar, dan yang lebih utama adalah dari
keluarga saya sendiri. Dalam waktu sekejab, kesulitan-kesulitan mulai datang.
Tiba-tiba saya yang dulu jarang punya hutang jadi punya hutang banyak. Dulu
saya jarang menunda pekerjaan, sekarang jadi banyak kerjaan menumpuk,
urusan-urusan menjadi semakin kompleks, dan lainnya. Bayangan dulu setelah menikah aka begini, begitu tenyata terbalik-balik. saking besarnya tuntutan, dan saya tidak bisa mengimbangi, akhirnya saya pusing dan
jatuh sakit. Di dalam keterpurukan itu saya mendapatkan banyak evaluasi diri dan saya
berusaha bangkit.
Ternyata setelah saya berfikir dalam, apa yang membuat saya
menderita adalah saya salah dalam berfikir. Saya dulu belum punya yang namanya “Kesadaran”. Saya masih menjadikan sesuatu persoalan dan
tuntutan itu datangnya dari luar, saya belum memiliki kesadaran dari dalam diri
bahwa saya harus bisa berdamai dengan persoalan, dengan masalah, dengan
tuntutan, dan dengan segala keadaan. Jiwa saya menuntut sempurna, tapi diri ini
belum bisa menerima kenyataan sebagai sebuah bentuk penyadaran. Akhirnya raga
ini layaknya kendaraan yang tiap hari dipakai tapi tidak pernah dirawat. Ya
tanpa terasa semakin cepat rusak dan mogok. Ketidaktahuan saya mengenai
kesadaran ini akhirnya membawa saya berfikir pendek,dan merasa tidak pernah
merasa hidup tenang dan bebas. ternyata hidup sebelum menikah dan sesudah
menikah sama saja. Tapi beberapa tahun setelah saya terpuruk, saya bersemangat
untuk mencari “kesadaran” dengan harapan saya bisa hidup bebas dan tenang
meskipun banyak masalah. Saya terus mencari konsep kesadaran diri, bagaimana
cara saya bisa merangkul masalah menjadi sahabat yang menyenangkan bagi saya,
bagaimana cara berteman dengan tuntutan-tuntutan hidup, dan yang terakhir bagaimana cara menikmati
hidup.
Saya akhirnya mulai belajar, dan tetap akan belajar dalam
sisa hidup saya bahwa:
a.Seburuk apapun kita dimasa lalu jangan khawatir teman,
pengalaman pahit adalah obat kuat hidup kita yang paling manjur. Jadi maju
terus, “Sing penting Joged”.
b.Apapun profesi anda, apapun pekerjaan anda, yang anda
kerjakan saat ini adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan kepada kita.
Masalahnya bukan pada persoalan/tuntutan yang kita hadapi, tapi bisakah kita
memunculkan kesadaran dalam diri kita untuk menerima tantangan hidup dan
mengatasinya.
c.Awali dengan “menerima kenyataan”, maka beban hidup akan
lebih terasa ringan .
d.Berlatih untuk memaafkan diri sendiri, dan orang lain tiap
saat. Kejarlah kesadaran lewat berlatih kesabaran.
e.Sekaya-kayanya anda, sepintar-pintarnya anda, selama belum
bisa memperoleh “Kesadaran” diri, maka masih akan terus terjadi konflik fikiran
dan hati (konflik batin) dan hidup masih akan terbelenggu tali egoisme diri.
Hiduplah bebas dan tenang.
f. Mungkin kita merasa pandai sekarang, paling gaul
sekarang, paling wah sekarang, paling top sekarang, paling sukses sekarang.
Tapi berhati-hatilah kepada jalan yang terasa mudah tapi menggelincirkan jiwa
raga kita kedalam lubang hitam duniawi. Sadar…sadar…sadar…
g.Jadikanlah kesadaran sebagai penyeimbang kehidupan.Yang kita butuhkan hanya ketika daya kesadaran kita mulai menipis, maka berhentilah sejenak untuk "me-recharge" baterai kesadaran dan lanjutkan kehidupan anda kembali. Jadilah sehat, jadilah bijak, dan jadilah bahagia.
Maafkanlah kata-kata saya yang bodoh ini, maaf jika kurang
berkenan. Salam sejahtera bagi semua makhluk.
“KENALILAH DIRIMU, MAKA KAU AKAN KENAL KEHIDUPAN”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar